bosconicus kalasanensis

Minggu, 29 Mei 2011

Fanatisme sesaat. (Studi kasus masyarakat pecinta bola Indonesia)

Sepulang dari berlatih futsal bersama teman-teman saya hari Sabtu 28 Mei 2011, saya memperhatikan ketika dalam perjalanan pulang ada beberapa tempat-tempat seperti cafe, mini market, futsal land, sampai warung burjo terlihat ramai para pemuda yang sebagian besar saya lihat seumuran mahasiswa. Ketika itu jam 11 malam saya menyusuri perjalanan dari daerah Seturan sampai rumah saya di daerah Purwomartani, area-area publik tersebut dipenuhi oleh para 'pecinta' sepak bola. Benar saja, karena hari itu adalah hari di mana dua klub besar Eropa yaitu Barcelona dan Manchester United saling beradu untuk memperebutkan gelar tim terbaik se-Eropa. Atribut kedua tim tersebut juga sering saya temui saat perjalanan pulang itu. Pertandingan final liga champion Eropa tersebut sepertinya sudah 'menghipnotis' para masyarakat pecinta bola di Yogyakarta, dan Indonesia pada umumnya. Malam minggu kali ini sepertinya menjadi malam minggu yang suram bagi para pasangan pecinta bola, karena biasanya cowok lebih memilih tidur dahulu demi Barcelona dan Man. United. Sehingga para cewek merasa 'tersingkirkan' hanya karena bola.

Namun, saya sendiri tidak merasakan euforia Final Uefa Champions League karena tidak satu pun tim idola saya yang menjadi finalis. Saya mungkin sangat senang dan gembira andai Barcelona menang, bukan senang lantaran Barcelona menang atas Man. United, tetapi saya sangat senang karena Man. United tidak juara. Saya masih merasakan betapa sakit hatinya saya terhadap Man. United, karena MU sudah mematahkan rekor 18 kali juara Liga Inggris milik tim kesayangan saya, LIVERPOOL. Ya, saya memang seorang Liverpudlian yang hanya menjagokan Liverpool di kancah liga Inggris. 

Yang ingin saya bicarakan adalah, banyaknya perilaku fanatisme dadakan dan sesaat terhadap kedua tim tersebut. Banyak yang tidak menjagokan/nge-fans dengan Barcelona ataupun MU, bahkan ketika semifinal Liga Champion pun banyak yang tertidur kala itu. Tetapi yang terjadi adalah saat ini mereka mungkin sedang taruhan dengan hasil kedua tim finalis tersebut. Saya pun ditanya, kamu jagoin siapa? Saya menjawab LAZIO dan LIVERPOOL. Yang bertanya dengan saya malah tertawa dan mengatakan, hari gini jagoin Lazio ma Liverpool? Tertawa penuh dengan kesinisan yang tinggi, tetapi bagi saya ya inilah yang namanya fans sejati. Saya pun berani mengatakan kalau Lazio akan meraih scudetto liga Serie A 2011/2012 dan Liga Europa musim depan, sedangkan Liverpool akan menjadi Juara Liga Inggris 2011/2012. Kali ini saya mendapatkan tertawaan yang lebih menggila lagi, tapi lagi-lagi saya pun hanya bisa berkata, ya inilah yang dinamakan fanatisme sejati, dan anda hanya 'mencintai' tim sepak bola yang menjanjikan bisa juara di semua ajang. Anda mungkin berkata bahwa saya fans sejati A.C. Milan (Milanisti), tetapi saat Milan tidak berkancah di Liga Champions lagi, ada pun beralih saya adalah seorang Manchunian (suporter MU), padahal anda sangat ngefans sekali dengan Chelsea. 

Jujur, kalau ditanya mengenai liga Spanyol saya sangat tidak tertarik. Karena kita tidak bisa melihat tim-tim macam Valencia, Villareal, atau mungkin Atletico Madrid menjadi juara atau bahkan runner-up sekali pun. Real Madrid dan Barcelona lah dua besar Liga Spanyol, karena mereka hanya bergantian menghuni posisi satu dua saja. Saya pikir betapa bodohnya Lionel Messi bertahan di Liga yang sangat monoton. Saya pikir Messi lebih pas berada di Liga Inggris atau Serie A Liga Italia, dengan harapan bisa bermain bersama Liverpool atau Lazio (anda pasti tertawa sinis). 

Mungkin begitulah gambaran bagaimana para pecinta sepak bola di Indonesia yang lebih mementingkan finansial pribadi dengan menjagokan tim lain daripada tim idolanya sendiri. Fanatisme sesaat hanya menjadi secuil perilaku manusia yang inkonsisten. Harapan saya adalah Lazio dan Liverpool bisa juara di liga masing-masing. FORZA LAZIO!! YOU'LL NEVER WALK ALONE!!!

By : Hendi Laziale de Liverpudlian.

Kamis, 26 Mei 2011

syukur kepadamu Tuhan

Pada malam itu, hari Minggu tanggal 22 Mei 2011, sekumpulan anak2 muda berkumpul dI Rumah saudari Nova di dusun Turusan... Mereka hendak merayakan sekaligus mensyukuri apa yang telah di dapat selama ini... Banyak cerITA konyol yang terjadi di sana. Apalagi dengan hadIRnya dua orang yang mampu mengocok perut kita yaitu GENDUD( MENDO) dan OM BENI (COMOT).......

Disamping itu, juga hadir wajah2 baru mudika kita seperti Adit, Galang dsb....
semua membuat suasana menjadi lebih semarak....
salam BOSCOERS............

Kamis, 19 Mei 2011

Si Comot dan Si Mendo : manusia pembuat tertawa

Sahabat Boscoers, tentu semua pasti tahu dengan 2 orang tokoh mudika Don Bosco Kalasan Tengah yang paling sering dikerjai oleh hampir semua Boscoers ketika sedang berkumpul. Ya dialah Beni dan Darminto (Gendut). Mereka berdua sering sekali menjadi bulan-bulanan para Boscoers, dari mulai disuruh untuk membuatkan teh/kopi sampai menjadi bahan tertawaan Boscoers karena tingkah laku mereka yang kocak menjurus konyol. Beni saat ini sedang mendapatkan gelar baru yaitu 'Comot'. Apa itu 'comot'? Mungkin dari beberapa Boscoers belum tahu arti dari 'comot'. 'Comot' adalah sebuah singkatan dari 'koco moto' (Kaca Mata). Itu dikarenakan Beni adalah salah satu cowok Boscoers yang paling sering menggunakan kaca mata. 

Darminto yang akrab dipanggil Gendut ini adalah anggota Don Bosco yang paling konyol se Kalasan Tengah (mungkin se-dunia). Tingkah laku yang aneh namun menggelitik ini sering menghiasi kami Boscoers ketika sedang berkumpul bersama. Gendut mendapat gelar 'mendo' (Kambing) bukan karena ke-kambing-annya, namun Boscoers sering memelesetkan namanya dari Darminto menjadi Darmendo. Agak sama kan? hahaha... Dua orang ini sangat lekat dengan Mudika Don Bosco. Mereka berdua bak dua sejoli yang tak terpisahkan. Mereka berdua juga mempunyai hobi yang sama, yaitu mengejar wanita sampai tetes darah penghabisan. Banyak wanita yang melekat di hati mereka, namun tidak satu pun wanita yang melekatkan mereka di hatinya. Tapi perjuangan mereka dalam mencari cinta sangat patut kita acungi jempol, karena mereka tidak pernah menyerah sekalipun harus menunggu untuk menjadi janda. Boscoers, kita tunggu aksi mereka berdua di panggung Jagad Paseduluran Kalasan Tengah.

Selasa, 17 Mei 2011

Gereja Tua : sebuah romansa ala Boscoers

Mungkin masih segar dalam ingatan para Boscoers ketika kita mendengar lagu "Gereja Tua" yang dipopulerkan oleh Panbers (kalo tidak salah). Kisah dalam lagu tersebut setidaknya mengingatkan para Boscoers dan eks-Boscoers ketika merantau keluar kota, entah bekerja atau sudah berkeluarga. Boscoers tentunya masih ingat ketika gereja kita yang dulu masih berupa bangunan tua bekas gedung sekolah SMP Bina Tama, di mana beberapa dari Boscoers juga sempat menjadi bagian dari SMP tersebut. Namun bukan SMP tersebut yang menjadi cerita, namun kisah-kisah romantis yang dibangun oleh para Boscoers ketika itu. Banyak sekali kisah-kisah romansa cinta antara dua anak manusia yang sama-sama menjadi bagian dari mudika Don Bosco. Mudika ketika itu bukan hanya menjadi ajang untuk berkumpul dan bertemu teman-teman seperjuangan, tetapi menjadi tempat untuk bertemu sang pujaan hati. Ketika itu banyak sekali Boscoers yang terlibat inces alias 'cinta lokasi' antar sesama Boscoers. Bahkan sampai saat ini pun masih ada sisa-sisa kisah 'gereja tua' yang terjalin dalam 'gereja baru'. 

Ada yang berlanjut ke dalam sebuah ikatan perkawinan namun tidak sedikit juga yang gagal ditengah jalan. Ada pula yang hingga saat ini masih memendam perasaan karena tidak mempunyai sisa keberanian untuk mengukngkapkan isi hatinya, dan ada juga yang masih saling menutup diri walaupun ada rasa yang tertinggal. Semua itu menjadi kenangan yang mungkin tak akan pernah dilupakan oleh Boscoers. Bagaimana perjuangan mereka tidak hanya untuk nama Don Bosco, namun untuk diri mereka sendiri dalam membuat sebuah kisa romansa 'gereja tua' yang tidak akan pernah hilang dari memori para Boscoers hingga kini sampai kapan pun dan mungkin sampai bumi ini tidak berbentuk lagi.

Senin, 16 Mei 2011

MCK (Mudika Central Kalasan) St. Don Bosco : antara ngopi dan petikan gitar

Malam minggu yang sangat dingin seusai misa mingguan di kapel St. Ignatius Temanggal- yang sekarang bukan kapel lagi- kami sering berkumpul b ersama untuk sekedar mengobrol, gosip, basa-basi, bercanda ria bersama. Namun ada hal yang tidak bisa kami tinggalkan dari sekian banyak hal saat kami berkumpul bersama. Ngopi dan gitar. Dua faktor yang harus dan selalu ada saat kami kumpul entah itu di rumah salah satu anggota seperti ayik atau Mbak Titik, atau ketika saat kami di gereja pun selalu ada kopi dan gitar. Bahkan tidak ada makanan pun tidak menjadi masalah bagi kami, namun kalau tidak ada kopi atau gitar satu pun, jagongan kami tidak akan pernah sempurna.

Gitaris yang ada seperti Robin, Ipang, Angga, Ayik, Sogol, Hendi, dll pun mendadak jadi artis dadakan, dan kadang kala mereka diberi kopi dan camilan (seadanya) sebagai royalti. Tidak dapat kami rasakan betapa matahari sudah mulai mengintip, tetapi alunan gitar tidak pernah berhenti walaupun sesekali hanya terdengar petikan senar gitar yang tak beraturan saja.

Intinya apapun aktivitas yang kami lakukan selalu dekat dengan kopi dan petikan gitar sehingga sangat romantis sekali. Tetapi tidak ada/jarang ada teman-teman wanita yang selalu menemani para "pria-pria kesepian" itu.

Minggu, 15 Mei 2011

Glory Glory Kalasan Tengah

Di awal posting kali ini, kami mencoba melihat apa yang terjadi hari ini 15 Mei 2011. Saat perayaan HUT Paroki Marganingsih Kalasan, dalam perlombaan futsal antar mudika se-paroki, kami Mudika Don Bosco Kalasan Tengah yang terwakili dalam Bosco FC mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Ya, hari ini juga kami para pemain futsal Bosco FC tanpa disangka-sangka memperoleh prestasi yang cukup tinggi. Walaupun hanya sebagai runner-up saja, namun itu sudah sangat berarti buat pasukan Bosco FC itu. "Tidak percaya kalau kami bisa mencapai final", kata kapten Bosco FC, Antonius Kristanto. "Semula kami hanya mentargetkan lolos babak knock out melawan Mudika Maguwo, namun apa yang terjadi hari ini tidak dapat kami lupakan begitu saja", tambah pelatih Bosco FC, Hendi Rusdiyanto.

Pada babak knock out melawan Maguwo, Bosco FC menang telak dengan skor 7-3. Bosco FC lolos ke fase berikut melawan Manisrenggo United (mudika Manisrenggo). Melawan Manisrenggo United, Bosco FC kembali membuat kejutan dengan mengalahkan Manisrenggo skor 3-1. Pada partai semifinal, Bosco FC berhadapan dengan Mudika Prambanan, yang secara mengejutkan mengalahkan tim unggulan Mudika Berbah. Skor 4-4 mengakhiri pertandingan Bosco FC dengan Mudika Prambanan yang harus dilanjutkan dengan adu penalti. Ketika penalti berjalan, hasil imbang juga diraih. Akhirnya kemenangan Bosco FC ditentukan oleh lemparan koin. Di partai final, Bosco FC melawan Mudika Cangkringan. Fisik yang sudah tidak memadai membuat Bosco FC puas dengan posisi kedua karena kalah telak dengan skor 6-0.

Formasi : Darmanto (Kiper), Galang (Kiper), Kris, Dika, Sinyo, Adit, Anton, Bayu, Kinkin, Angga.